Cerita Ahmad Ngiliyun, Peserta Program Pijak in Collaboration with IBM SkillsBuild
Bagi Ahmad Ngiliyun (25), pendidikan bukanlah sebuah garis akhir, melainkan sebuah estafet panjang yang harus terus dijalani dengan lari yang konsisten. Sebagai anak sulung yang memikul harapan besar keluarga, pemilik nama panggilan Ngiliyun ini tumbuh dengan kesadaran bahwa dunia tidak akan menunggu mereka yang berpuas diri.
Sebagai seorang dosen muda, ia memiliki prinsip bahwa menjadi seorang pendidik berarti harus menjadi pembelajar abadi. Prinsip tersebut ia pegang teguh demi membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang untuk menguasai teknologi tercanggih masa kini.
đź’» Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangLatar belakang keluarganya yang bersahaja menjadi bahan bakar utama bagi semangatnya. Ayahnya adalah seorang karyawan swasta, sementara ibunya merupakan seorang wirausaha yang berjualan agar-agar untuk memenuhi kebutuhan harian.
Sejak bangku SMP, sang ayah telah menanamkan pola pikir bahwa di zaman ini, pendidikan tinggi adalah sebuah keharusan. Pesan itulah yang menuntun Ngiliyun hingga berhasil meraih gelar S2 di usia muda dan kini berdiri di depan kelas untuk mentransfer ilmu kepada para mahasiswanya.
Panggilan Jiwa Menjadi Pelita bagi Mahasiswa

Ngiliyun sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi dosen sejak awal. Dahulu, ia bermimpi menjadi seorang tentara. Namun, saran sang ayah membuatnya beralih arah. Ketertarikannya pada dunia mengajar justru tumbuh saat ia aktif menjadi pembina Pramuka sewaktu SMK. Pengalaman melihat binar mata siswa saat memahami materi baru membuatnya jatuh cinta pada dunia pedagogi.
Namun, ia memilih jalur yang berbeda dari guru sekolah pada umumnya. Ngiliyun ingin menjadi dosen agar bisa terus melakukan riset dan mengembangkan teknologi yang bisa langsung diaplikasikan di industri. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membekali mahasiswanya dengan ilmu yang relevan, bukan sekadar teori usang dari buku teks lama. Inilah yang kemudian mendorongnya untuk mengikuti program Pijak, sebuah kolaborasi antara IBM SkillsBuild dan Dicoding, guna mendalami artificial intelligence (AI).
Menaklukkan Tantangan dalam Ekosistem Belajar Program Pijak

Keputusannya untuk belajar AI dalam program Pijak lahir dari kekhawatiran akan pesatnya perkembangan zaman. Ngiliyun sadar bahwa jika ia tidak memperbarui ilmunya, maka apa yang ia ajarkan di kelas akan segera menjadi tidak relevan. Namun, perjalanan belajar di Pijak tidaklah mudah. Sebagai seorang dosen purnawaktu, tantangan terbesarnya adalah manajemen waktu.
Ia harus pintar menyisihkan waktu di tengah tumpukan tugas mengajar dan urusan administratif kampus yang menyita energi. Tak jarang ia merasa lelah, tetapi kualitas materi yang disajikan dalam program ini membuatnya tetap bertahan. Mengenai pengalamannya belajar, Ngiliyun menyoroti kualitas platform tersebut.
“Materi dalam program Pijak sangat luar biasa dan membantu saya dalam belajar. Kurikulumnya disusun secara sistematis sehingga memudahkan saya, yang awalnya awam dalam beberapa aspek AI, menjadi lebih paham secara mendalam,” ujarnya.
Selain waktu, tantangan teknis seperti kegagalan dalam mengerjakan tugas atau submission juga ia alami. Namun, Ngiliyun melihat kegagalan tersebut sebagai proses pematangan. Sistem evaluasi yang ketat justru meyakinkannya bahwa ia sedang berada di jalur belajar yang benar.
Menghasilkan Karya dengan Mengimplementasikan Hasil Belajar dalam Program Pijak

Pengalaman belajar dalam program Pijak memberikan dampak pada karier profesional Ngiliyun. Ia tidak hanya menjadi lebih percaya diri saat mengajar mata kuliah terkait teknologi informasi, tetapi juga mulai mengintegrasikan AI ke dalam sistem internal di institusinya, Institut Teknologi dan Kesehatan Mahardika (Institut Mahardika). Ia sangat mengapresiasi bagaimana program ini menjembatani celah antara akademisi dan kebutuhan industri.
“Program Pijak in collaboration with IBM SkillsBuild memberikan perspektif industri yang nyata. Saya jadi tahu standar apa yang sedang dibutuhkan saat ini, sehingga saya bisa membimbing mahasiswa agar lebih siap kerja setelah lulus nanti,” ungkapnya.
Penerapan ilmu ini pun berbuah manis. Ngiliyun berhasil meraih capaian yang membanggakan dengan menciptakan model prediksi untuk tim panitia penerimaan mahasiswa baru (PMB) yang kini sudah diintegrasikan di situs resmi kampus, serta berhasil membangun sistem pendeteksi gambar yang akurat.
Lebih dari itu, dedikasinya dalam mengembangkan teknologi telah diakui secara legal melalui perolehan sejumlah Surat Pencatatan Ciptaan (Hak Cipta) dari Kementerian Hukum Republik Indonesia untuk kategori Program Komputer. Beberapa inovasi peranti lunaknya yang telah terdaftar resmi antara lain DataCraft, Cluster Mind, sistem Sarana Prasarana (SARPRAS), serta sejumlah inovasi program komputer fungsional lainnya. Fondasi dari semangat berinovasi dan pencapaian ini turut diperkuat melalui perjalanannya dalam program Pijak.
Menanam Benih untuk Indonesia Emas 2045

Bagi Ngiliyun, semua pencapaian ini adalah langkah awal untuk kontribusi yang lebih besar. Ia ingin ilmu yang ia dapatkan tidak berhenti di dirinya sendiri, melainkan mengalir luas melalui mahasiswanya. Ia percaya bahwa untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, para pendidik harus lebih dulu melek teknologi dan berhenti mencari alasan untuk tidak belajar.
“Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang dimiliki saat ini, karena zaman telah berubah drastis. Pijak in collaboration with IBM SkillsBuild adalah program yang tepat bagi kita untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut tanpa harus merasa takut tertinggal,” ujarnya.
Perjalanan Ahmad Ngiliyun menunjukkan bahwa dedikasi belajarnya dalam program Pijak tidak hanya meningkatkan nilai dirinya sebagai dosen, tetapi juga mempersiapkan generasi masa depan yang tangguh dan kompetitif di era digital. Ngiliyun pun membuktikan bahwa waktu akan selalu ada bagi mereka yang mau menyisihkannya untuk ilmu.
