Cerita Ade Rahmat Setiawan, Lulusan IDCamp
Dunia teknologi informasi sering kali dianggap sebagai medan yang hanya bisa ditaklukkan oleh mereka yang memiliki fasilitas lengkap sejak dini. Namun, bagi Ade Rahmat Setiawan (21), penguasaan teknologi justru lahir dari keterbatasan dan tekad untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Sebagai bungsu dari seorang mantan sopir truk dan ibu yang berdagang di pasar, Ade menyadari sejak awal bahwa satu-satunya cara untuk mengubah masa depan adalah dengan menjadi ahli dalam bidang yang paling ia gemari, yaitu cyber security.
đź’» Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar Sekarang
Tanpa laptop pribadi di rumah, ia mengandalkan laptop kantor yang dipinjamkan kepadanya untuk tetap mengasah kemampuan di luar jam kerja, membuktikan bahwa dedikasi tidak membutuhkan kemewahan, tetapi konsistensi.
Keterbatasan biaya sempat menjadi kerikil dalam perjalanan akademisnya. Ade harus mencukupkan diri dengan gelar Diploma III (D3) Teknik Informatika dari Politeknik Negeri Semarang (2021–2024), meski mimpinya untuk melanjutkan ke jenjang S1 masih menyala kuat.Â
Di tengah kondisi tersebut, Ade tidak pernah berhenti mencari peluang. Baginya, setiap baris kode dan protokol keamanan adalah teka-teki yang harus dipecahkan untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik bagi keluarganya di Kebumen.
Memahami Standar Industri yang Sesungguhnya dari IDCamp

Motivasi Ade untuk terus berkembang membawanya pada program IDCamp, sebuah beasiswa program pelatihan teknologi dari Indosat Ooredoo Hutchison. Di tengah kesibukannya meniti karier, Ade melihat program ini sebagai jembatan untuk mendapatkan ilmu yang relevan dengan kebutuhan industri. Ia tidak sekadar mengikuti kursus, tetapi benar-benar mendalami alur belajar Back-End Developer yang disediakan oleh Dicoding sebagai pengembang kurikulum.
Pengalaman di IDCamp memberikan standar baru bagi cara Ade memandang sebuah sistem. Kurikulum yang terstruktur dan sistem evaluasi proyek yang ketat melatihnya untuk berpikir lebih sistematis. Ade mengakui bahwa kualitas materi dalam program ini sangat krusial bagi efektivitas belajarnya.
“Saya memilih program belajar yang materinya berkualitas dan up-to-date seperti IDCamp, agar waktu belajar yang terbatas benar-benar efektif. Kurikulum di sana membantu saya memahami standar industri yang sesungguhnya.”
Menerapkan Ilmu dari IDCamp pada Pekerjaan Sehari-Hari

Ilmu yang diserap dari IDCamp segera ia implementasikan dalam perjalanan kariernya yang melesat cepat. Ade memulai langkah profesionalnya sebagai Security Operations Center Analyst di Nexa. Di posisi ini, logika pemrograman back-end yang ia pelajari sangat membantunya dalam memahami alur kerja aplikasi dari sisi server, yang merupakan titik krusial dalam pertahanan siber.
Kini, di usianya yang masih sangat muda, Ade telah dipercaya sebagai Senior Cyber Security Engineer di PT Phisudo. Tanggung jawabnya tidak main-main. Ia memimpin operasi keamanan dan melakukan advanced penetration testing. Keahlian yang ia asah di IDCamp terbukti sangat bermanfaat saat ia harus membangun tools internal untuk otomatisasi laporan keamanan. Ade menekankan bahwa kunci dari keberhasilannya adalah korelasi antara teori dan praktik.
“Saya menerapkan langsung apa yang saya pelajari di IDCamp pada pekerjaan sehari-hari karena ilmu yang dipraktikkan akan jauh lebih melekat. Program ini memberikan saya kepercayaan diri untuk melakukan hal itu di level profesional.”
Terus Belajar Meski Telah Mencapai Posisi Senior di Kantor

Meski telah mencapai posisi senior, Ade tidak lantas merasa puas. Ia tetap mempertahankan rutinitas malamnya dengan belajar minimal 1–2 jam menggunakan laptop kantor yang ia bawa pulang. Prestasi masa lalunya sebagai finalis KMIPN IV di Politeknik Negeri Batam serta finalis KMIPN VI di Politeknik Negeri Jakarta hanyalah batu loncatan baginya untuk terus naik ke level yang lebih tinggi.
Ade percaya bahwa di dunia teknologi yang berubah setiap detik, berhenti belajar adalah sebuah kemunduran. Baginya, status ekonomi keluarga bukan penghalang, melainkan bahan bakar untuk terus membuktikan bahwa talenta dari daerah bisa bersaing di panggung nasional.
Sebagai penutup, ia memberikan pesan bagi talenta digital lainnya yang mungkin memiliki keterbatasan serupa.
“Jangan pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dikuasai, dunia teknologi terus berkembang, dan kita harus berkembang bersamanya. Jadikan belajar sebagai rutinitas, bukan beban,” tutup Ade.
