Rifzki mengasah skills AI dalam program Pijak

Perjuangan Rifzki Mengasah Skills AI di Tengah Kesibukan Kerja

Cerita Rifzki Adiyaksa, Peserta Program Pijak in Collaboration with IBM SkillsBuild

Bagi Rifzki Adiyaksa (26), dunia teknologi bukan sekadar barisan kode, melainkan sebuah gerbang menuju kehidupan yang lebih nyaman bagi keluarganya. Lahir di Jakarta pada tahun 2000 sebagai anak tunggal, Rifzki tumbuh dengan memahami betul arti perjuangan. 

Ayahnya, yang dahulu bekerja sebagai seorang pengacara, telah berpulang, meninggalkan Rifzki bersama ibunya yang kini telah pensiun setelah bertahun-tahun membanting tulang sebagai buruh pabrik.

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Latar belakang keluarga yang sederhana ini tidak membuatnya patah arang. Sebaliknya, harapan sang ibu agar dirinya bisa menjalani kehidupan yang baik dan berkecukupan menjadi kompas yang menuntun langkah profesionalnya.

Kini, saat ia telah mapan berkarier sebagai IT Network Engineer di PT Pupuk Kujang, semangat belajarnya justru semakin membara. Rifzki sadar bahwa di industri yang bergerak secepat kilat, berhenti belajar berarti siap untuk tertinggal.

Menjaga Relevansi di Tengah Kesibukan Kerja

Sebagai seorang profesional yang bertanggung jawab atas stabilitas dan keamanan infrastruktur jaringan di salah satu perusahaan besar Indonesia, hari-hari Rifzki dipenuhi dengan konfigurasi switch, firewall, hingga pengelolaan server untuk memastikan operasional industri berjalan tanpa gangguan.

Namun, di tengah kesibukan pekerjaan purnawaktu yang menguras energi tersebut, ia merasa ada sesuatu yang kurang. Ia melihat kecerdasan buatan atau AI mulai merambah berbagai lini pekerjaan teknis.

Motivasi utamanya untuk kembali belajar adalah keinginan untuk tetap relevan dengan masa kini. Rifzki tidak ingin menjadi ahli jaringan yang hanya terpaku pada cara-cara konvensional.

Melalui informasi dari email Dicoding, ia mengenal program Pijak, sebuah program hasil kolaborasi IBM SkillsBuild dan Dicoding yang menawarkan pelatihan AI secara intensif. Baginya, Pijak adalah kesempatan emas untuk menambah “senjata” baru dalam menghadapi tantangan profesional di masa depan.

Perjuangan Manajemen Waktu dalam Program Pijak

Masuk pada ekosistem belajar Pijak memberikan warna baru yang menantang bagi Rifzki. Ia harus berjibaku dengan manajemen waktu yang sangat ketat. Bayangkan, setelah menyelesaikan tanggung jawab operasional di kantor, ia tidak langsung beristirahat, tetapi membuka laptop untuk mempelajari modul dan mengerjakan tugas-tugas yang padat.

Pengalamannya selama belajar di Pijak ia gambarkan sebagai proses yang sangat komprehensif. Kurikulumnya tidak hanya menawarkan teori yang mengawang-awang, tetapi sangat praktis dengan adanya proyek akhir atau submission.

Rifzki mengakui bahwa ia sempat beberapa kali mengalami penolakan pada bagian tugas tertentu dan harus melakukan resubmit agar memenuhi kriteria industri yang ketat. Namun, justru di sinilah ia merasakan kualitas program yang sesungguhnya.

“Dalam program Pijak, yang sangat membantu saya bertumbuh adalah submission-nya. Saya jadi tahu cara menyelesaikan setiap proyek pada submission agar memenuhi seluruh kriteria dan dapat diterima,” ungkapnya.

Proses yang berliku ini membentuk mentalitas profesionalnya untuk tidak mudah puas dan selalu mengejar kesempurnaan dalam bekerja.

AI sebagai Sahabat Baru dalam Operasional Jaringan

Investasi waktu dan tenaga yang Rifzki curahkan untuk program Pijak mulai membuahkan hasil di tempat kerjanya, PT Pupuk Kujang. Ia tidak lagi melihat AI sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai alat bantu yang meningkatkan efisiensinya. Pijak memberinya perspektif baru dalam mengelola dan mengklasifikasikan data menggunakan alat-alat mutakhir yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Dampak dari pembelajaran ini sangat nyata dalam rutinitas kerjanya. Rifzki kini cukup banyak memanfaatkan AI untuk mempermudah tugas-tugas teknisnya. Bahkan, sebagai bentuk penerapan ilmunya secara mandiri, ia sempat menciptakan sebuah situs web generatif AI sederhana. Keberhasilan ini semakin meyakinkannya bahwa keputusan untuk belajar di Pijak adalah langkah yang tepat. Ia menyoroti betapa bermakna kurikulum program Pijak bagi kariernya.

“Belajar di Pijak sangat menantang namun komprehensif. Kurikulumnya tidak hanya teoretis, tetapi juga praktis dengan proyek akhir,” ujarnya.

Senjata Tambahan untuk Masa Depan

Bagi Rifzki, kesuksesan bukan berarti berhenti berproses. Meskipun ia telah berhasil membuktikan bahwa seorang anak buruh pabrik dari Jakarta bisa berkarier di perusahaan besar, ia tetap rendah hati. Baginya, setiap ilmu baru yang ia serap adalah modal utama untuk tetap relevan di industri.

Rifzki berharap kisahnya dapat menginspirasi rekan-rekan sejawatnya yang mungkin merasa ragu untuk belajar lagi setelah bekerja purnawaktu. Ia percaya bahwa lelahnya belajar adalah investasi yang jauh lebih kecil dibandingkan risiko kehilangan relevansi di dunia kerja.

“Jangan pernah merasa puas dengan apa yang sudah dikuasai saat ini. Belajar saat sudah bekerja memang melelahkan, tapi itu adalah investasi terbaik untuk menjaga relevansi kita di industri,” tutup Rifzki.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.