Menjadi Programmer dengan Keahlian Spesifik yang Sulit Digantikan

Cerita Fakhri Raihan Lulusan Program Intensif Dicoding

Banyak mahasiswa ingin lulus langsung punya pekerjaan, tapi api terkadang melupakan nilai jual yang menjadikan mereka tenaga kerja yang sangat dibutuhkan. 

Namun, hal tersebut tidak terjadi pada Fakhri Raihan (23). Berkat kemampuannya dalam bidang geografi dan teknologi, Fakhri berhasil menjadi programmer dengan keahlian yang sulit digantikan, yakni menjadi programmer yang paham development, automation, dan pengolahan database aplikasi pemetaan tanah.

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Penasaran keseruan Fakhri bekerja dalam bidang ini? Mari kita simak ceritanya!

Dididik Dua Orang Guru Menjadi Pribadi Disiplin

Lahir di Sleman, Yogyakarta, Fakhri merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Meskipun bukan anak tertua di rumah, Fakhri tumbuh sebagai anak yang disiplin dan bertanggung jawab.

Hal ini dipengaruhi oleh didikan kedua orang tuanya yang merupakan guru. Ayahnya seorang guru Teknik Elektro di SMKN 2 Pengasih dan ibunya seorang guru TK di TK ABA Saren. 

Ayah Fakhri selalu mencontohkan kerja keras. Selepas mengajar di siang hari, Ayah Fakhri membuka jasa service dan jual barang elektronik. Lalu, ibunya mencontohkan bahwa hidup tidak boleh banyak mengeluh, seperti halnya setiap hari bergelut mengajari anak-anak tanpa lelah. Pesan kedua orang tuanya hanya satu: tidak ada cara instan untuk mencapai sesuatu. Di atas fondasi itulah, ketertarikan Fakhri pada teknologi mulai muncul. 

Saat itu, handphone yang dimiliki Fakhri kecil mengalami kerusakan pada sistem. Karena terdesak ingin memperbaikinya, Fakhri terdorong mengutak-atik sendiri agar kembali normal. Ia browsing dan menonton tutorial YouTube, hingga akhirnya berhasil membuat perangkatnya berfungsi kembali. Momen itu memunculkan rasa bahagia karena Fakhri kecil ternyata bisa memperbaiki masalah teknologi yang rumit. Sejak saat itu ia terus mengeksplorasi teknologi.

“Dari kecil selalu diajarkan: tidak ada hal instan. Jadi, waktu hp rusak coba-coba benerin sendiri. Ternyata berhasil dan jadi titik awal perjalanan saya di bidang tech,” ujar Fakhri.

Memilih Jurusan Kuliah yang Unik dan Niche

Ketertarikan Fakhri di bidang teknologi terus berlanjut hingga mendorongnya melanjutkan pendidikan di D4 Sistem Informasi Geografis, Universitas Gadjah Mada. Alasan utama dia memilih jurusan ini karena unik, menggabungkan teknologi informasi dan geografi. 

Kegiatannya selama kuliah mempraktekan teknologi informasi dalam konteks geografi terasa menyenangkan. Ia menikmati proses belajar karena sering dikenalkan hal baru terkait teknologi di ranah geospasial. Rasa enjoy ini membuat dorongannya bukan sekadar “bisa”, tetapi ingin terus mengeksplorasi.

“Selama kuliah enjoy banget, makanya udah niat buat mantepin skill dan dapat kerja jadi tech talent di bidang geografi,” ucap Fakhri.

Hingga akhirnya memasuki semester 6, Fakhri mencari program studi independen bersertifikat yang bisa konversi SKS. Di situlah dia bertemu dengan program intensif Dicoding dan memilih alur pembelajaran “Pengembang Front-End Web dan Backend”. Tujuannya satu: untuk memantapkan tech skill-nya agar siap saat terjun ke industri setelah lulus nanti. 

Hampir Gagal Diterima Program Dicoding, Akhirnya Juara Capstone Project

Di masa semester akhir, banyak mahasiswa yang berlomba-lomba mencari program studi independen bersertifikat. Tidak terkecuali Fakhri yang mendaftarkan dirinya di program intensif Dicoding.

Sedihnya, setelah mendaftar ternyata Fakhri tidak langsung dinyatakan lolos. Karena minat peserta yang tinggi pada program intensif Dicoding, Fakhri pun dinyatakan masuk dalam antrian waiting list.

Dia sempat berkecil hati, namun keesokan harinya ia dihubungi kembali oleh pihak Dicoding dan dinyatakan lolos. Responsnya jelas senang, apalagi karena dia diterima di alur pembelajaran pilihannya, “Pengembang Front-End Web dan Backend”.

Selama mengikuti program intensif Dicoding, Fakhri merasakan banyak kegiatan berilmu. Setiap minggu ada kelas bersama praktisi, materinya selalu baru, dan dapat tips dan trik dunia industri teknologi. Di sisi lain, Fakhri juga mendapat mentor yang terus mendampingi selama masa program dan sigap hadir untuk diajak konsultasi dan berdiskusi. 

Bagi Fakhri yang tidak banyak mendapatkan materi pembelajaran web di kampus, modul-modul Dicoding membantu mengisi kekosongan itu. Fakhri memahami pengembangan web secara perlahan. Mulai dari mempelajari setiap modul, mempraktikkan isi modul, serta berdiskusi dengan teman se-tim dan mentor.

Bagian terbaiknya, di akhir program Fakhri bersama tim berhasil memenangkan predikat best capstone project. Project yang dia buat adalah Hopepoints, sebuah layanan pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak berbasis lokasi. 

“Berkat program intensif Dicoding, saya dan tim berhasil bikin project sekaligus portfolio kerja. Jadi sarana juga untuk mempraktikan ReactJS,” ujar Fakhri.

Belum Lulus Program Belajar, tapi Sudah Diterima Kerja di Perusahaan Geospasial 

Di tengah mengikuti program intensif Dicoding, Fakhri mendaftar seleksi internship di Esri Indonesia, perusahaan besar di dunia teknologi geospasial. Saat diminta membuat use case project, Fakhri membangun webGIS sederhana untuk monitoring distribusi pupuk bersubsidi. Ia mengimplementasikan hal yang didapatkan dari modul dan kelas praktisi Dicoding. Menurutnya ini menjadi salah satu faktor ia lolos bekerja di Esri Indonesia.

Pada tahap interview, ia mendapat beberapa pertanyaan teknis yang ternyata berkaitan dengan materi modul web Dicoding. Bahkan ada cerita spesifik di mana saat interview ia ditanya materi yang baru saja dia pelajari semalam di program intensif Dicoding.

“Pas interview kerja ditanya soal progressive web apps. Kebetulan baru beres belajar modul “Belajar Pengembangan Web Intermediate” di program intensif Dicoding, jadi pertanyaan ini bisa saya jawab dengan mudah,” ujar Fakhri.

 

Kini, Fakhri sudah tidak bekerja di Esri Indonesia. Dia sudah melebarkan sayapnya menjadi Land Database Supervisor di PT Cita Mineral Investindo Tbk. dengan tugas yang lebih menantang, yakni mengelola dan mengolah data spasial melalui automation dan database serta melakukan development terhadap aplikasi GIS.

Jika ditanya rencana selanjutnya, Fakhri berkata ingin membagikan ilmunya kepada para talenta digital lain dalam bentuk konten tentang teknologi. Menurutnya, hidup yang baik adalah hidup yang dihabiskan untuk belajar. 

“Jangan berhenti belajar. Gali ilmu sebanyak mungkin seakan-akan kamu akan hidup selamanya,” tutup Fakhri.

Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan nilai jual yang membuatmu berbeda dibanding lulusan tech lain? Jika belum, ini saatnya kamu mencoba program intensif Dicoding seperti Fakhri.

Daftarkan dirimu di program intensif Dicoding: Asah 2026! Bangun spesialisasi dan portofolio sesuai industri agar kamu jadi tech talent yang tak tergantikan.

Lihat detail kelas dan benefitnya di dicoding.com/asah


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.