Pernah Drop Out Dua Kali Tak Halangi Delvia Jadi Tech Developer

Cerita Delvia – Lulusan Coding Camp powered by DBS Foundation

Takut setelah gagal berkali-kali adalah perasaan yang normal bagi setiap manusia. Delvia turut merasakan hal yang sama kala ia sempat drop out dari dua universitas sekaligus. Namun, keberanian mahasiswi STT Indonesia Tanjung Pinang untuk menghadapi rasa takutnya dalam mencoba lagi ini berhasil mengantarkannya ke karier global.

Bagaimana Delvia berhasil menaklukan tantangan tersebut? Mari kita baca cerita lengkapnya!

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Kondisi yang Dimiliki Delvia Membuatnya Sempat Kesulitan Belajar

Delvia memiliki perjalanan yang cukup unik sebelum akhirnya menjadi seorang mahasiswi IT. Pendidikan menengahnya tidak linier. Semasa SMK, ia mengambil jurusan akuntansi karena arahan orang tuanya.

“Dulu, masih ada anggapan bahwa teknologi adalah dunia laki-laki,” ungkapnya.

Bidang akuntansi tersebut ia jalani dengan baik hingga melanjutkan studi ke dua perguruan tinggi sekaligus. Pada perguruan tinggi pertama, ia menjalani kuliah hingga semester ketujuh. Pada perguruan tinggi lainnya, kuliahnya hanya satu semester. Sering menghadapi kesulitan yang tidak pernah ia pahami sebelumnya membuat Delvia harus berhenti kuliah sebanyak dua kali.

Itulah titik balik yang membuat Delvia menyadari bahwa ia adalah seorang neurodivergent, sebuah istilah untuk individu dengan fungsi otak yang berbeda dari standar umum. Temuan ini membuat Delvia berusaha keras selama dua tahun untuk menemukan stabilitas dan ritme belajar yang sesuai. Setelah tujuannya tercapai, ia memutuskan untuk mencoba lagi.

Direkomendasikan Dosen untuk Belajar dalam Coding Camp powered by DBS Foundation

Untuk menata ulang hidupnya, Delvia mencoba berkuliah di bidang yang sempat ia minati saat SMP. Saat berseragam putih-biru, Delvia sering melakukan tweak melalui root mode agar bisa bermain game dengan lebih lancar pada perangkat Android-nya.

Menyadari selama ini minatnya ada pada teknologi, Delvia akhirnya berkuliah Teknik Informatika di STT Indonesia Tanjung Pinang. Ia bersemangat untuk mengejar bidang yang benar-benar memicu rasa penasarannya.

Jika ia tak berkuliah di tempatnya saat ini, Delvia takkan mungkin mengenal Coding Camp powered by DBS Foundation. Salah satu dosennyalah yang memperkenalkan Delvia pada program ini. Dosennya berpendapat bahwa program Coding Camp sangat terstruktur dan bisa bermanfaat bagi Delvia karena berfokus pada sisi praktikal.

Berambisi untuk bisa memperoleh wawasan industri yang lebih nyata, Delvia ikut serta dalam program Coding Camp dan memilih alur belajar Front-End Web & Back-End Development. Ia terkesima melihat pengalaman belajar dalam program ini melampaui ekspektasinya, khususnya saat ia mempelajari filosofi lifelong learning pada awal sesi.

Berhasil Kerja Sama dengan Tim untuk Menyandang Gelar Top 20 Capstone Team

Mulanya, Delvia mengira proses belajarnya akan sangat membosankan. Ia tak menyangka bahwa para instruktur dalam program Coding Camp powered by DBS Foundation dapat membawakan materi dengan sangat menyenangkan. Selain itu, lingkungan belajar dalam Coding Camp yang antar pesertanya saling mendukung membuat Delvia tak malu bertanya jika ada yang belum dipahami.

Meski Delvia mengaku cukup kesulitan menghadapi salah satu materi teknis dalam Coding Camp yang membahas tentang animasi CSS, ia berhasil menaklukkannya dengan menyelesaikan modul lain jauh sebelum tenggat waktu dan memanfaatkan sisa waktunya untuk mengulang materi dan bereksperimen. Selain itu, ia pun banyak belajar mengenai kerja sama tim lewat penggarapan proyek akhir yang bernama capstone project.

“Menyatukan berbagai pikiran yang berbeda saat mengerjakan capstone project itu sulit. Namun, kami berhasil menyelesaikannya dengan saling transparan mengenai kesulitan masing-masing. Berkat kerja keras dan kekompakan tersebut, tim kami berhasil terpilih masuk ke dalam Top 20 Capstone Team,” kenang Delvia.

Dari Coding Camp powered by DBS Foundation, Delvia memperoleh tak hanya kelas tech skills, tetapi juga kelas soft skills yang menjadi bekal tambahan bagi Delvia untuk bertumbuh sebagai calon profesional. Ia mengaku bahwa kelas tentang growth mindset adalah favoritnya.

“Hadapi Rasa Takutmu”

Materi yang Delvia peroleh dari Coding Camp powered by DBS Foundation rupanya sangat membantu saat ia mengikuti proses rekrutmen di Studio20, sebuah agensi kreatif dan digital marketing yang berbasis di Malaysia. Pengetahuan tentang proses wawancara membuat Delvia berhasil lolos rekrutmen dan diterima sebagai Back-End Developer Intern.

“Saat bekerja di Studio20, saya banyak menerapkan materi growth mindset yang diperoleh dari Coding Camp powered by DBS Foundation. Terus berproses dengan baik di tempat kerja membuat saya bertransisi yang semula hanya pemagang menjadi full-time Junior Back-End Developer,” ungkap Delvia.

Sebagai seorang Junior Back-End Developer, Delvia bertugas untuk menerjemahkan kebutuhan menjadi sistem yang fungsional melalui pengembangan API. Delvia bercerita bahwa kelas manajemen waktu sangat membantu pekerjaannya karena kelas tersebut membantunya menghadapi tantangan di kantor saat beberapa task, perbaikan bug, dan penyesuaian API datang bersamaan.

Sebagai seorang talenta digital perempuan yang berhasil meraih karier di perusahaan global, Delvia ingin menyemangati mahasiswi sesamanya untuk menempuh jalan yang sama. Ia ingin kawan-kawannya bisa menghadapi rasa takut dan ketidakpercayaan diri.

“Jujur, sampai detik ini saya masih sering merasa takut dan mengalami imposter syndrome. Namun, saya sadar bahwa jika saya berani menghadapi rasa takut itu, saya bisa berkembang lebih baik. Jadi kuncinya adalah hadapi rasa takutmu,” tutup Delvia.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.