Cerita Haikal Abizar, Lulusan Coding Camp powered by DBS Foundation
Berangkat dari menjadi pemagang di badan usaha milik negara (BUMN) bernama Badan Urusan Logistik (Bulog), Haikal Abizar (23) akhirnya diangkat menjadi junior programmer.
Keberhasilan tersebut diraihnya setelah mengembangkan salah satu aplikasi perusahaan berbekal ilmu front-end dan back-end yang ia peroleh dari Coding Camp powered by DBS Foundation.
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangBagaimana perjalanan Haikal hingga akhirnya berhasil menjadi bagian dari BUMN? Mari kita baca cerita lengkapnya!
Termotivasi Drama Korea untuk Berkuliah Teknologi

Ketertarikan Haikal terhadap teknologi dimulai saat layanan kendaraan umum online booming semasa ia SMA. Saat itu, ia melihat dunia mulai berubah dan teknologi semakin maju. Haikal merasa, jika ia tidak mengikuti perkembangan zaman, khususnya tentang teknologi, ia akan tertinggal.
Keseriusannya untuk mendalami teknologi tumbuh kala ia menonton drama Korea berjudul Startup (2020). Siapa sangka drama tersebut mendorong Haikal untuk melanjutkan studi ke Universitas Gunadarma, jurusan Informatika.
Minat Haikal terhadap teknologi tecermin dalam kesungguhannya belajar di kampus. Jelang penggarapan skripsi, Haikal punya keinginan untuk mempelajari front-end web dan back-end development. Hal itu mendorongnya untuk mendaftar Coding Camp 2025 powered by DBS Foundation yang kebetulan memiliki salah satu alur belajar yang sama.
Menariknya, ketika momen Haikal memulai proses belajarnya dalam program Coding Camp, pada saat yang sama, ia pun memulai program magangnya di Bulog.
Di sana, ia bertanggung jawab terhadap full-stack development perusahaan sehingga keikutsertaannya dalam program Coding Camp powered by DBS Foundation dinilai dapat membantu proses magangnya.
Sempat Struggle Memahami Pemrograman Web

Berhasil diterima sebagai peserta Coding Camp powered by DBS Foundation, kemampuan Haikal dalam mengatur waktu benar-benar diuji. Ia harus mampu mengalokasikan waktu untuk belajar di Coding Camp sembari menggarap skripsi dan magang. Haikal merasa kelas manajemen waktu yang ia peroleh dari Coding Camp sangatlah membantu.
Selain kelas soft skills dinilai sangat membantu, Haikal pun bercerita bahwa kelas bahasa Inggris pada program Coding Camp powered by DBS Foundation membiasakannya untuk berani berkomunikasi dalam bahasa asing tersebut. Ia terbantu dengan adanya instruktur yang merupakan native speaker.
“Dari semua materi, kelas tech adalah yang paling membantu karena dulu, saya sempat struggle untuk memahami pemrograman web. Namun, akhirnya saya bisa memahami pemrograman ini lewat Coding Camp powered by DBS Foundation. Saya juga jadi memahami full-stack secara keseluruhan lewat program ini,” ungkap Haikal.
Menuai Banyak Prestasi setelah Belajar dalam Coding Camp powered by DBS Foundation

Selain jadi memahami full-stack secara keseluruhan, Haikal mengakui bahwa pengalaman belajarnya dalam Coding Camp berkontribusi pada kesuksesan kariernya di Bulog.
Saat masih menjadi seorang pemagang, Haikal diberikan tanggung jawab untuk mengerjakan front-end dan back-end di Bulog sehingga ilmu yang sudah diperolehnya dari Coding Camp dapat segera diimplementasikan.
“Di Bulog, saya mengerjakan proyek web yang kemudian memperoleh penghargaan dari pemerintah sebagai salah satu website keterbukaan informasi terbaik. Dari 39 BUMN, Bulog menduduki peringkat kesembilan,” ungkapnya.
Tak hanya itu prestasi yang Haikal raih setelah belajar dalam Coding Camp. Ia pun mengaku bahwa ilmu front-end yang ia peroleh sangat bermanfaat saat mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2025. Haikal menyatakan bahwa ia lolos hingga tahap pendanaan.
Lelah di Masa Sekarang untuk Menuai Hasil di Masa Depan

Prestasi yang Haikal tuai di tempat kerja membuatnya berhasil bertransisi dari posisinya sebagai pemagang. Ia diangkat menjadi junior programmer di Bulog.
Saat ditanya apa kelas dalam Coding Camp yang paling berpengaruh terhadap pekerjaannya, ia menjawab Belajar Dasar Pemrograman JavaScript. Haikal beralasan bahwa dalam kelas tersebut, ia dapat benar-benar mempelajari fundamental JavaScript, mengingat semua pembuatan web berbasis JavaScript.
Sukses dalam studi, Coding Camp, serta karier dalam satu waktu adalah hal yang tak mudah. Namun, Haikal berhasil melakukan ketiganya.
“Setiap kali saya capek, saya selalu ingat kata-kata ini, ‘Di dunia ini ada dua pilihan, mau capek saat muda atau capek saat tua.’ Saya sendiri milih buat capek di masa muda, supaya saat tua nanti, saya bisa menuai apa yang saya tanam hari ini,” ungkapnya.
Kepada para mahasiswa yang ingin mengikuti jejaknya, Haikal menekankan pentingnya memperbanyak skills dan proyek agar bisa dilirik oleh rekruter perusahaan. Selain itu, Haikal menutup wawancara dengan mengungkapkan pentingnya penguasaan salah satu bahasa pemrograman dan kepercayaan diri terhadap skills yang dimiliki.
