Kapan Legacy System Harus Dipertahankan atau Diganti

Legacy system sering menjadi dilema IT: masih berfungsi tetapi menimbulkan biaya, risiko, dan hambatan inovasi. Artikel ini memberikan panduan praktis untuk menilai kapan mempertahankan, memodernisasi sebagian, atau mengganti total, lengkap dengan metrik penilaian, strategi migrasi, perhitungan ROI, dan checklist implementasi agar keputusan lebih terukur.

Memahami Konsep dan Risiko Legacy System di Organisasi

Legacy system bukan sekadar sistem lama. Istilah ini merujuk pada aplikasi atau platform yang masih memegang proses bisnis penting, tetapi dibangun dengan teknologi, arsitektur, atau pola maintenance yang sudah ketinggalan zaman.

đź’» Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Berbeda dengan legacy code yang fokus pada potongan kode, legacy system mencakup ekosistem penuh: infrastruktur, integrasi, data, dan proses kerja di sekitarnya.

Sebuah sistem bisa menjadi legacy karena usia teknologi, misalnya masih bergantung pada mainframe atau database versi sangat lama. Vendor lock-in juga sering membuat organisasi sulit pindah, apalagi jika kontrak dan lisensi sangat mengikat.

Kustomisasi berlebih tanpa standar dan dokumentasi minim membuat pengetahuan sistem hanya ada di kepala beberapa orang, sehingga risiko operasional meningkat saat mereka keluar.

Risikonya nyata: security vulnerabilities karena tidak lagi mendapat patch, compatibility issues dengan API atau sistem modern, dan penumpukan technical debt yang membuat setiap perubahan menjadi mahal.

Tim sulit melakukan maintenance, waktu downtime bisa lebih lama, dan inovasi tertahan karena setiap integrasi baru harus “dipaksa cocok” dengan fondasi lama.

Di industri perbankan dan penerbangan, insiden gangguan layanan beberapa jam sering kali ditelusuri ke legacy system yang gagal menangani lonjakan transaksi atau tidak kompatibel dengan komponen baru.

Tanda dan Indikator Saat Sistem Lama Membutuhkan Perubahan

Saat sistem lama mulai sering bermasalah, kamu butuh indikator yang terukur, bukan hanya “feeling”. Dari sisi teknis, perhatikan durasi downtime, nilai MTTR (Mean Time To Repair), jumlah incident berulang, ketergantungan pada platform yang sudah end-of-life, serta ketersediaan patch keamanan dari vendor.

Jika downtime makin sering dan MTTR makin panjang, itu sinyal kuat bahwa sistem sedang tidak sehat.

Dari sisi bisnis, lihat tren biaya operasional yang terus naik untuk menjaga sistem tetap berjalan. Amati juga batasan integrasi dengan sistem baru, misalnya sulit menghubungkan ke API modern atau layanan cloud.

Indikator lain adalah kehilangan pelanggan karena performa buruk, serta tertundanya fitur baru karena keterbatasan arsitektur lama.

Untuk audit cepat, gunakan ceklis: apakah ada security vulnerability kritis yang belum bisa ditambal, risiko compliance (misalnya regulasi data), dan penurunan performa yang mengganggu proses inti.

Prioritaskan indikator yang berdampak langsung ke pendapatan, kepuasan pelanggan, dan risiko hukum. Semakin sering masalah muncul dan menyentuh area ini, semakin tinggi urgensi untuk merencanakan perubahan sistem secara terstruktur.

Metode Penilaian Teknis dan Bisnis Sebelum Memutuskan

Setelah kamu melihat tanda sistem perlu berubah, langkah berikutnya adalah menilai kondisinya secara terstruktur.

Dari sisi teknis, mulai dengan codebase scan untuk memetakan kompleksitas, dependency mapping untuk melihat ketergantungan library dan layanan, lalu cek test coverage agar tahu seberapa aman melakukan perubahan. Lanjutkan dengan architecture review singkat dan buat proof-of-concept kecil, misalnya memodernisasi satu modul penting.

Dari sisi bisnis, lakukan cost-benefit analysis yang membandingkan biaya pemeliharaan sekarang dengan skenario modernisasi. Tambahkan stakeholder impact mapping untuk melihat dampak ke operasional, pelanggan, dan tim internal, lalu susun risk assessment dan analisis vendor lock-in.

Untuk merangkum, gunakan matriks keputusan dengan kolom cost, risk, value, dan time-to-market dan beri skor 1–5 untuk opsi keep dan replace.

Contoh sederhana, kamu bisa pakai template seperti ini:

Opsi,Cost,Risk,Value,TimeToMarket,Total
Keep,4,3,2,4,13
Replace,3,2,5,3,13

 

Jika skor total sama, lihat dimensi mana yang paling penting untuk strategi bisnis saat ini, misalnya value dan time-to-market, lalu jadikan itu dasar rekomendasi sebelum menyusun strategi refactor atau migrasi bertahap.

Strategi Modernisasi Refactor dan Migrasi Bertahap

Setelah penilaian teknis dan bisnis, kamu perlu memilih strategi modernisasi yang tepat. Opsi umum meliputi lift-and-shift (memindahkan apa adanya, misalnya ke cloud), replatform (pindah platform dengan sedikit perubahan), refactor (merapikan struktur kode tanpa ubah perilaku), rewrite penuh, dan pola strangler pattern yang mengganti modul lama secara bertahap.

Untuk migrasi bertahap, mulai dengan identify seams: batas modul, domain bisnis, atau integrasi eksternal yang bisa diisolasi. Lalu buat API facade di depan sistem lama, sehingga klien berbicara ke satu pintu.

Setelah itu lakukan incremental cutover, memindah satu per satu fitur secara bertahap, sambil menjalankan parallel run antara sistem lama dan baru sampai hasilnya konsisten.

Risiko migrasi dikendalikan dengan feature toggles agar kamu bisa mengaktifkan atau mematikan fitur baru tanpa rilis ulang. Gunakan circuit breakers untuk mencegah kegagalan berantai saat layanan baru tidak stabil.

Untuk data, manfaatkan data migration tools dengan dukungan incremental sync dan checksum, lalu uji rekonsiliasi sebelum memotong sistem lama.

Untuk skala menengah, timeline tipikal bisa 6–9 bulan dengan beberapa milestone. 

  • Bulan 1–2: desain arsitektur target, API facade, dan rencana data. 
  • Bulan 3–4: implementasi layanan inti pertama, parallel run terbatas, dan otomatisasi testing.
  • Bulan 5–6: perluasan cutover, optimasi performa, dan pengurangan beban di sistem lama. 
  • Sisa waktu difokuskan pada hardening, rollback drill, dan persiapan analisis biaya–manfaat yang dibahas di bab berikutnya.

Estimasi Biaya, ROI, dan Manajemen Technical Debt

Dalam modernisasi sistem lama, kamu perlu menghitung beberapa komponen biaya utama. Minimal ada engineering effort (jam kerja tim), biaya license atau subscription, pelatihan (training) pengguna, opportunity cost karena fitur baru tertunda, dan biaya transisi seperti dual run atau data migration. Tanpa angka yang jelas, diskusi cepat berubah jadi debat opini.

Untuk membandingkan opsi replace vs maintain, kamu bisa pakai rumus sederhana:

ROI = (Benefit tahunan – Biaya tahunan) / Total investasi awal
Payback Period = Total investasi awal / Benefit bersih tahunan

Dengan cara ini, manajemen bisa melihat kapan investasi balik modal, bukan hanya seberapa “keren” teknologi baru.

Technical debt sebaiknya dikelola seperti utang finansial: di-amortisasi, bukan diabaikan. Buat refactor backlog yang eksplisit, tetapkan governance policy misalnya 10–20% kapasitas sprint untuk membayar utang, dan definisikan batas toleransi risiko.

Studi kasus sederhana sering cukup: tunjukkan skenario biaya 3 tahun ke depan untuk “diam di tempat” versus “modernisasi bertahap”, lalu tunjukkan selisih biaya insiden dan hilangnya peluang bisnis.

Panduan Implementasi Uji dan Rencana Rollback Pasca-migrasi

1. Persiapan Environment dan Pipeline

  • Setelah estimasi biaya dan technical debt disepakati, fokus bergeser ke eksekusi yang aman.

  • Mulai dengan menyiapkan environment yang konsisten antara dev, staging, dan production.

  • Pastikan CI/CD pipeline dapat menjalankan build, test, dan deploy otomatis. Termasuk kemampuan rollback satu klik jika terjadi masalah.

2. Migrasi Data dan Cutover Checklist

  • Gunakan checksum atau row count untuk memverifikasi integritas data.

  • Susun cutover checklist yang mencakup langkah teknis dan penanggung jawab untuk setiap tugas.

  • Checklist ini berfungsi sebagai panduan eksekusi dan dokumentasi saat migrasi berlangsung.

3. Strategi Pengujian Berlapis

  • Unit & API Test Otomatis: Jalankan di pipeline untuk memvalidasi fungsi dasar.

  • Integration Test End-to-End: Lakukan di staging untuk memastikan sistem bekerja secara menyeluruh.

  • User Acceptance Testing (UAT): Strukturkan berdasarkan skenario bisnis prioritas tinggi dengan kriteria lulus yang jelas.

  • Dokumentasikan temuan UAT sebagai dasar untuk memutuskan apakah migrasi dapat dilanjutkan, ditunda, atau perlu rollback.

4. Rencana Rollback

  • Tetapkan kriteria objektif: tingkat error, degradasi performa, atau data korup.

  • Siapkan prosedur teknis rollback, komunikasi ke stakeholder, dan siapa yang berhak memicu rollback.

  • Setelah cutover, aktifkan post-migration monitoring melalui dashboard yang menampilkan error, latensi, dan metrik bisnis utama.

5. Dokumentasi Pasca-Migrasi dan Runbook

  • Gunakan template dokumentasi yang memuat lesson learned, runbook operasional, dan rekomendasi pemeliharaan.

  • Runbook harus mencakup prosedur rutin, penanganan insiden, dan kontak eskalasi.

  • Dokumentasi ini memungkinkan penilaian apakah sistem baru memberikan nilai lebih dibanding sistem lama, serta kapan evaluasi keputusan mempertahankan atau mengganti perlu dilakukan.

Penutup

Keputusan mempertahankan atau mengganti sistem bergantung pada kombinasi teknis dan bisnis: fungsi, biaya, risiko, dan peluang inovasi. Gunakan metrik terstruktur, uji opsi kecil, hitung ROI, dan siapkan rollback plan. Dengan pendekatan bertahap dan dokumentasi yang baik, organisasi dapat meminimalkan gangguan dan mengoptimalkan nilai dari investasi TI.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.