Cerita Arya Yudhistira, Lulusan Program Intensif Dicoding
Bagi banyak orang, video game mungkin cuma pengisi waktu luang, tetapi bagi Arya Yudhistira (25), video game mengawali obsesinya terhadap teknologi. Rasa penasaran tentang bagaimana sebuah game bisa tercipta dan bergerak interaktif, akhirnya menuntun pemuda kelahiran Tangerang ini, terjun ke dunia pemrograman.
Berpegang teguh pada prinsip bahwa ‘usaha tidak akan mengkhianati hasil’, Arya pun berhasil mengubah hobinya bermain game dan skill yang mumpuni menjadi fondasi karier yang solid sebagai Software Engineer. Penasaran seperti apa perjalanan Arya? Simak ceritanya berikut ini!
💻 Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangBerawal Dari Bermain Game di Komputer Kerja Ayah
Ketertarikan Arya pada dunia teknologi bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba saat ia beranjak dewasa. Jauh sebelum ia mengenal baris-baris kode pemrograman, rasa penasaran itu sudah tumbuh sejak masa taman kanak-kanak.
Pemicu utamanya sederhana: video game. Saat masih kecil, Arya sering mencuri waktu meminjam komputer ayahnya untuk bermain game. Mulai dari game ringan seperti Feeding Frenzy hingga game strategi yang menuntut pemikiran mendalam seperti Empire Earth. Bagi anak-anak lain, game ini hanya hiburan. Namun, bagi Arya, game yang dia mainkan justru menimbulkan pertanyaan di kepalanya.
“Waktu kecil tiap main game selalu ada pertanyaan di kepala, ‘Kok bisa interaktif gini? Gimana cara bikin game kaya gini?’”, ucap Arya.
Pertanyaan itu menjadi benih awal kariernya. Hingga akhirnya Arya memutuskan melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 6 Kota Tangerang Selatan dengan jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).
Di sanalah ia mulai mempelajari dasar-dasar pembuatan perangkat lunak, yang kemudian ia lanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi di jurusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Sumatera (ITERA).

Mengasah Hard Skill Programming, React, dan Back End
Meskipun saat itu sudah menjadi mahasiswa teknik informatika, Arya merasa perlu mengasah kembali hard skill-nya agar siap terjun ke industri yang dinamis. Di situlah dia bertemu dengan program intensif Dicoding.
Arya dikenalkan pada program intensif Dicoding melalui sebuah sosialisasi yang dia ikuti di kampus. Dia memilih alur belajar Pengembang React dan Back-End di Dicoding. Ternyata, pengalaman belajar teknis di program intensif Dicoding jadi momen berkesan bagi Arya. Ia mendapatkan penguasaan teknis yang mendalam seputar React dan Node.js, dua teknologi yang sangat populer dan banyak dibutuhkan industri saat ini.
Selama berada di program ini, tantangan terbesar yang dirasakan Arya bukanlah pada materi teknis, melainkan pada manajemen waktu. Saat itu, Arya juga punya tanggung jawab asisten praktikum di kampus yang menyita waktu. Hal itu membuatnya kewalahan menjalani dua kewajiban secara bersamaan.
Namun, Ia justru menjadikan situasi ini sebagai momen pembuktian dengan mempraktikkan langsung materi time management yang ia pelajari di sesi belajar soft skill program intensif Dicoding. Berkat disiplin dan strategi manajemen waktu yang tepat, semua tanggung jawab tersebut dapat diselesaikan dengan sangat baik.
“Saya pengen punya fundamental yang siap buat terjun ke industri, makanya pilih program intensif Dicoding supaya bisa tempa hard skill dan soft skill,” ucap Arya.

Capstone Project: Simulasi Nyata Membuat Proyek dari Nol
Bagian yang paling krusial dari pengalaman Arya di program intensif Dicoding adalah pengerjaan Capstone Project. Di fase ini, semua ilmu yang telah ia serap selama berbulan-bulan diuji integrasinya secara langsung.
Arya merasakan pengalaman nyata membangun sebuah proyek dari nol hingga selesai (end-to-end). Ini bukan sekadar latihan membuat website biasa menggunakan React, melainkan sebuah simulasi kerja profesional di mana ia harus belajar menyatukan visi dengan anggota tim yang berbeda, memecahkan masalah teknis yang nyata, serta mengelola proyek dengan standar industri.
Melalui Capstone Project, Arya mendapat gambaran jelas dinamika manajemen proyek dan pentingnya kerja sama tim yang solid. Atmosfer suportif dari para mentor dan lingkungan belajar di program intensif Dicoding membuat proses Arya selama membuat capstone project terasa menyenangkan.
Selain mendapatkan ilmu, Arya juga merasa bonus terbesar dari program ini adalah punya relasi yang ia bangun dengan orang-orang hebat, mulai dari para expert hingga rekan-rekan siswa lainnya di program intensif Dicoding.
“Capstone Project jadi nilai jual utama saat wawancara kerja. Saya merasa lebih sering dilirik oleh HR ketika menjelaskan capstone project saya dari program intensif Dicoding,” ucap Arya.

Lolos Masuk Dunia Profesional, Jadi Software Engineer
Manfaat dari program intensif Dicoding yang diikuti Arya mulai terlihat saat ia memasuki semester 7. Berkat bekal ilmu yang matang dari program intensif Dicoding di semester sebelumnya, Arya berhasil diterima magang di Dicoding sebagai Product Engineer. Mengingat Dicoding merupakan lembaga belajar IT, diterimanya Arya sebagai Intern Product Engineer merupakan bukti pengetahuannya yang luas di bidang tersebut.
Magang ini menjadi tambahan pengalaman yang berharga dalam perjalanan karier Arya. Hingga akhirnya capstone project, sertifikat dari program intensif Dicoding, dan pengalaman magangnya berhasil mengantar Arya menjadi Software Engineer profesional di Sapta Group, sebuah holding yang membawahi berbagai jenis bisnis dan lembaga pendidikan formal.
Dalam pekerjaan sehari-harinya, Arya bertanggung jawab melakukan pengembangan web secara end-to-end, mulai dari proses pengumpulan kebutuhan (requirement gathering) bersama stakeholder hingga melakukan deployment.
Ia banyak menggunakan tech stack Next.js, di mana konsep dasar dan fundamental React yang ia pelajari secara mendalam di kelas program intensif Dicoding menjadi modal utama yang memudahkan adaptasinya.
Kini, Arya memiliki visi untuk tidak hanya menjadi pengguna atau pengembang, tetapi juga kontributor yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan banyak orang melalui solusi teknologi. Kepada para pemula, Arya berpesan agar tidak tergantung penuh pada AI di era saat ini. Selalu lakukan verifikasi melalui dokumentasi resmi dan jadikan AI sebagai partner diskusi.
“Jadikan AI partner diskusi, bukan jalan pintas untuk menghilangkan proses belajar fundamental.” tutup Arya.

Ingin jadi Software Engineer seperti Arya Yudhistira? Jangan lewatkan kesempatan untuk menempa hard skill dan soft skill kamu melalui program intensif Dicoding, Tempa led by Dicoding.
Ada tiga alur belajar yang bisa kamu pilih: Artificial Intelligence, Mobile Development, dan Web Development.
Lihat materi belajar lengkapnya di dicoding.com/tempa
Batas pendaftaran sebelum 13 Februari 2026
