Nurun: “Kuliah IT Berat, tapi Saya Berhasil Jadi Programmer Perusahaan Jepang”

Cerita Nurun Nafisah, Lulusan Program Intensif Dicoding

Memulai karier di dunia teknologi sering kali terasa menakutkan bagi banyak orang, bahkan bagi mereka yang sudah mengambil jurusan informatika sekalipun. Perasaan ragu, takut akan tekanan industri, hingga kebingungan menentukan arah belajar adalah tantangan yang nyata. 

Kisah inspiratif datang dari Nurun Nafisah (23), atau yang akrab disapa Nurun, seorang perempuan lulusan program intensif Dicoding kelahiran Tuban, Jawa Timur. 

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Sebagai anak tunggal, Nurun memikul harapan besar dari kedua orang tuanya untuk menjadi pribadi yang sukses. Dia pun meneruskan pendidikannya di jurusan Teknik Informatika agar memiliki masa depan yang cerah.

Namun, bagaimana jadinya ketika dia ternyata ragu dengan pilihan kariernya karena enggan bekerja di bidang IT? Simak kisah lengkapnya di bawah ini!

Asal Kuliah yang Penting Beres karena Tidak Mau Kerja di Bidang IT

Perjalanan Nurun di bidang teknologi tidak dimulai dengan ambisi yang meledak-ledak. Ketertarikannya pada teknologi tidak pernah ada pada awal ia menempuh pendidikan S1 Teknik Informatika di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). 

Pada masa itu, fokus utamanya hanyalah menyelesaikan studi secepat dan sebaik mungkin tanpa ada keinginan untuk berkarier di bidang IT. 

Mengapa demikian? Itu karena dulu Nurun memandang dunia teknologi sebagai bidang yang penuh tekanan dan tantangan yang sangat berat, hingga dia tidak ingin sama sekali berkarier di bidang itu.

Namun, di balik keraguan tersebut, Nurun memegang teguh nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarganya. Orang tua Nurun selalu menekankan bahwa pendidikan dan karier adalah bekal utama bagi perempuan karena harta bisa habis, tetapi ilmu akan menolong di masa depan. 

Pesan inilah yang mendorong Nurun untuk membuka diri dengan dunia informatika.

“Dulu saya gak mau kerja di bidang IT, yang penting kuliah lulus aja jadi sarjana Informatika,” ucap Nurun.

Menemukan Titik Balik Setelah Masuk Program yang Sesuai Standar Industri

Seiring berjalannya waktu, pandangan Nurun terhadap dunia IT mulai bergeser ketika ia mulai terlibat langsung dalam berbagai tugas di bidang IT.

Semakin banyak tugas yang dikerjakan, dia menyadari bahwa segala sesuatu yang terasa sulit dan menakutkan sebenarnya dapat dipelajari asalkan ada kemauan yang kuat.

Akhirnya, Nurun berusaha belajar lebih terarah dan mencari program belajar yang bisa menyediakan materi terstruktur dan jam pembelajaran terjadwal. Dia pun dikenalkan pada program intensif Dicoding yang direkomendasikan penuh oleh kampusnya, Universitas Negeri Surabaya. Ini merupakan pengalaman pertama Nurun belajar coding di luar kampus yang bisa sekaligus konversi SKS.

“Saya kenal program intensif Dicoding dari kampus, lalu saya ambil alur belajar front-end web dan back-end,” ucap Nurun.

Materi Tidak Kaleng-Kaleng dengan Tugas yang Menantang

Mengikuti program intensif Dicoding bukanlah perjalanan yang mulus tanpa hambatan. Nurun sempat sulit mendisiplinkan diri karena sistem belajar di Dicoding berbasis self-learning yang menuntut Nurun memiliki manajemen waktu yang bagus dan disiplin.

Ia harus memastikan setiap modul dan tugas (submission) diselesaikan tepat waktu sesuai jadwal yang ditentukan. Tak jarang, ia menemui submission dengan tingkat kesulitan tinggi yang membuatnya harus mengulik materi lebih ekstra. 

Namun, Nurun tidak menyerah. Ia paham bahwa program ini memang didesain sesuai standar industri. Jadi, jika dia mampu menyelesaikan tugas tersebut, berarti skill yang dia miliki sudah setara dengan para programmer yang terjun di dunia profesional.

“Tugasnya memang menantang, asal disiplin pasti bisa. Alhamdulillah, saya berhasil jadi lulusan terbaik dan meraih best capstone project,” ucap Nurun.

Dedikasi Nurun nyatanya membuahkan hasil yang luar biasa. Dia berhasil lulus dari program intensif Dicoding dengan meraih predikat lulusan terbaik, serta berhasil meraih predikat capstone project terbaik bersama timnya.

Pengalaman ini memberikan dampak signifikan pada sisi hard skill maupun soft skill-nya. Dari sisi teknis, pengetahuannya meningkat drastis, sementara dari sisi non-teknis, rasa percaya dirinya dalam menyampaikan dan menjelaskan hasil pekerjaan semakin terasah. Ia belajar cara mengomunikasikan proyek secara terstruktur dan menarik, yang menjadi modal sangat berharga saat menghadapi proses wawancara kerja.

Memetik Buah Kerja Keras: Mantap Jadi IT di Perusahaan Jepang

Setelah lulus dari program intensif Dicoding, pintu kesempatan karier terbuka lebar bagi Nurun. Proyek-proyek yang ia kerjakan selama di program ini menjadi bagian penting dari personal branding-nya. Salah satu manfaatnya, dia sempat diterima menjadi intern full-stack developer dengan kondisi persaingan penerimaan kerja yang ketat saat itu. Dia berhasil diterima berkat skill-nya dari program intensif Dicoding.

Kini, Nurun telah bekerja sebagai full time Staff IT di Maxart Inc, sebuah perusahaan asal Jepang secara remote. Tugas utama Nurun adalah melakukan maintenance website sesuai permintaan klien, termasuk perbaikan fungsi dan pengembangan tampilan front-end

Ada satu ilmu fundamental yang dia dapatkan dari program intensif Dicoding dan membantu pekerjaannya hingga saat ini, yaitu kelas “Belajar Dasar Git dengan GitHub”.

Berkat mengikuti kelas tersebut, Nurun lebih paham soal pengelolaan repository, branching, dan commit, bahkan jauh sebelum dia memulai kariernya di perusahaan Jepang ini. 

Nurun merasakan bahwa ilmu fundamental programming yang dia dapatkan dalam program intensif Dicoding membantunya lebih siap saat masuk dunia kerja.

“Ilmu Git & GitHub itu enggak tersentuh saat kuliah, tapi ternyata krusial saat kerja. Di situlah Dicoding bantu ngisi gap itu,” ucap Nurun.

Kini, Nurun sedang bekerja sembari melanjutkan pendidikannya di jenjang S2 Informatika Universitas Negeri Surabaya. Baginya, belajar ada proses seumur hidup, sehingga dia tidak ingin melewatkan setiap kesempatan yang dimiliki.

Akhir kata, Nurun berpesan kepada para talenta digital lain untuk terus belajar karena kesuksesan tidak datang secara instan.

“Jika belum bisa, belajar. Percayalah, tidak ada skill instan. Semua perlu proses.” tutup Nurun.

Tertarik mengikuti jejak sukses Nurun Nafisah? Jangan lewatkan kesempatan untuk meningkatkan skill dan membangun portofolio berstandar industri melalui program intensif Dicoding.

Ada tiga alur belajar yang bisa kamu pilih: Artificial Intelligence, Mobile Development, dan Web Development.

Lihat materi belajar lengkapnya di dicoding.com/tempa
Batas pendaftaran sebelum 31 Januari 2026


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.