Lebih Percaya Diri Setelah Belajar dalam Dicoding Bootcamp

Cerita Yuyu Aliwahyudin, Lulusan Dicoding Bootcamp

Lahir dan tumbuh dengan keterbatasan fisik di bagian tangan kanan membuat Yuyu Aliwahyudin (29) sering diragukan oleh banyak orang. Namun, kondisi tersebut tak meredupkan semangatnya untuk menjadi seorang talenta digital andal.

Dalam perjalanannya, Dicoding Bootcamp membantu Yuyu untuk bertumbuh. Ia yang dulu lebih banyak menutup diri, akhirnya menjadi seorang IT developer yang percaya diri. Apa saja yang mesti Yuyu hadapi hingga sampai ke titik ini? Mari kita baca cerita lengkapnya!

💻 Mulai Belajar Pemrograman

Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.

Daftar Sekarang

Belajar Komputerisasi Akuntansi Agar Dapat Membangun Dua Rencana

Sumedang adalah kota tempat Yuyu lahir dan besar sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Kondisi keluarga yang sederhana membuat Yuyu memahami makna kerja keras. Ayahnya adalah seorang petani, sedangkan mendiang ibunya adalah ibu rumah tangga. Beliau wafat pada 2022 lalu.

Meski hidup sederhana, kedua orang tua Yuyu selalu mengedepankan pendidikan bagi putra-putrinya. Oleh karenanya, saat Yuyu menaruh minat pada teknologi sejak SMA, ia didukung penuh kala melanjutkan studi D3 Komputerisasi Akuntansi di Universitas Telkom.

“Saya ambil jurusan tersebut agar bisa buat dua planning. Kalau saya belum kunjung dapat kerja setelah lulus, saya bisa coding di rumah sebagai pekerja lepas,” ungkapnya.

Namun, kerja keras Yuyu selama berkuliah berbuah manis kala dosennya merekomendasikannya untuk bekerja di Samudra Aplikasi Indonesia, sebuah perusahaan yang membangun produk teknologi akuntansi yang berbasis di Bandung. Ia diterima sebagai seorang Web Developer dan terhitung telah bekerja selama delapan tahun di sana saat ini.

Meski Diragukan Orang karena Sandang Disabilitas, Yuyu Tak Putus Asa

Sayangnya, tumbuh dengan keterbatasan fisik di bagian tangan kanan sejak lahir membuat Yuyu sering diragukan banyak orang. Tak jarang, ia mendengar ucapan kurang mengenakkan dari orang-orang di sekitarnya.

“Banyak yang meragukan, bahkan sampai bilang, ‘Sekolah tinggi-tinggi emangnya bakal sukses?’ Bahkan, saat ngerjain proyek, ada aja yang ragu kalau proyeknya di-handle oleh saya,” kenangnya.

Meski kecewa, Yuyu menolak untuk larut dalam kesedihannya. Ia buktikan bahwa ia bisa. Bahkan, meski telah bekerja secara purnawaktu, Yuyu masih mengedepankan pendidikannya dengan kembali berkuliah di bidang Akuntansi di Universitas Widyatama untuk jenjang S1. Ia merasa perlu pengetahuan lebih dalam tentang akuntansi karena pekerjaannya berkaitan dengan keuangan.

Telah bekerja bertahun-tahun dan menggenggam ijazah S1 di tangan tak membuat semangat belajar Yuyu layu. Ia merasa selama delapan tahun kerja, ia hanya fokus pada proses bisnis klien dan problem solving dari sisi keuangan. Yuyu perlu memperdalam pengetahuannya di bagian teknis dan itulah yang mendorongnya berkenalan dengan Dicoding Bootcamp.

Sukses Bangun Aplikasi untuk Klien BUMN

Dalam Dicoding Bootcamp, Yuyu mempelajari react and back-end development. Itu merupakan pengalaman pertama bagi Yuyu ikut dalam sebuah program bootcamp. 

“Materinya bagus dan kita diajarkan best practice yang relevan dengan perkembangan coding masa kini oleh ahlinya. Supaya progress belajar tetap bagus, tim Dicoding dan fasilitator senantiasa mengingatkan saya. Bahkan, ada study group, di mana saya bisa belajar bareng temen-temen di kelas,” ungkap Yuyu.

Meski untuk menjalani Dicoding Bootcamp Yuyu harus membagi waktu dengan pekerjaannya di kantor, ia menjalaninya dengan tetap tenang dan manajemen waktu yang baik. Ia mengaku berkali-kali mendapatkan dukungan dari berbagai pihak seperti fasilitator dan kawan belajarnya, khususnya saat mengerjakan capstone project.

Setelah belajar di Dicoding Bootcamp, Yuyu memanfaatkan ilmu yang ia peroleh dalam pekerjaannya. Saat itu, Yuyu harus menggarap sebuah aplikasi.

“Lulus dari Dicoding Bootcamp, saya sukses ngebangun aplikasi reprogramming anggaran buat salah satu klien BUMN,” ungkapnya dengan bangga.

“Mengalihkan Fokus pada Hal-Hal Positif Dapat Membuat Kita Merasa Tidak Punya Kekurangan Fisik”

Selain bisa membangun aplikasi yang dibutuhkan oleh klien BUMN-nya, Yuyu bercerita bahwa ada hal membanggakan lainnya yang ia alami setelah lulus dari Dicoding Bootcamp. Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan ekosistem belajar yang membuatnya dapat membuka diri.

“Dicoding Bootcamp dorong saya buat enggak nutup diri lagi. Saya mulai pede buat berjejaring sama IT developer lainnya dan ikut acara-acara yang diadain sama Dicoding, salah satunya seperti Badan Ekraf Developer Day 2025,” ujar Yuyu.

Hal itu membuat Yuyu paham bahwa lingkungan belajar yang tepat dan ekosistem yang suportif bisa mendorong siapa aja, termasuk orang dengan disabilitas seperti Yuyu, untuk bertumbuh. Ia yang dulu lebih banyak menutup diri karena diragukan banyak orang, sekarang lebih percaya diri karena dukungan orang-orang di sekelilingnya.

“Buat temen-temen disabilitas, jangan terlalu overthinking sama masa depan kita. Kita bisa bekerja kok, seperti yang lain, hanya beda saja caranya dengan kebanyakan orang. Fokuslah pada pengembangan diri dan lingkungan yang menerima kita untuk sama-sama berkembang. Terkadang, mengalihkan fokus pada hal-hal positif bisa membuat kita merasa tidak punya kekurangan fisik,” tutup Yuyu.


Belajar Pemrograman Gratis
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.