Cerita Abdillah Mufki Auzan Mubin, Lulusan Program Intensif di Dicoding
Setiap orang akan berhadapan dengan ujiannya masing-masing kala tengah berusaha untuk mengejar mimpinya. Bagi Abdillah Mufki Auzan Mubin (24), ujiannya ada pada versi remaja dirinya yang belum terlalu memikirkan masa depan. Adiksi pada game online sempat membuat pemilik nama panggilan Mufki ini putus sekolah.
Peristiwa itu menjadi titik balik bagi Mufki. Terlebih, ketika ia bangkit dan sempat menata ulang hidup dengan menjadi ojek online sembari mengambil paket C demi bisa kuliah kelas karyawan. Siapa sangka, lika-liku hidup tersebut justru membentuk kedewasaan Mufki, sehingga ia tumbuh jadi seorang IT developer profesional yang haus ilmu dan penuh tanggung jawab.
đź’» Mulai Belajar Pemrograman
Belajar pemrograman di Dicoding Academy dan mulai perjalanan Anda sebagai developer profesional.
Daftar SekarangBagaimana cerita perjalanan Mufki dalam menyongsong masa depannya? Mari kita baca berikut ini!
Jalan Mufki untuk Serius di Bidang Pemrograman Penuh Liku

Mufki merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Pria asal Bandung ini pernah melalui perjalanan hidup yang tak biasa. Dulu, ia adalah pelajar SMK di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan yang tak menaruh minat sama sekali pada pendidikan. Fokusnya hanya tertuju pada satu hal, yakni game online. Siapa sangka, adiksi tersebut membuat Mufki akhirnya putus sekolah.
“Harusnya, Ayah dan Ibu kecewa sama saya. Tapi, mereka malah ngasih saya kesempatan kedua. Saya didorong buat menata ulang hidup saya dan kerja sebagai ojek online,” kenang Mufki.
Dari menjadi ojek online-lah Mufki belajar sebenar-benarnya makna hidup. Ia jadi tahu arti dari tanggung jawab dan kerja keras, dua hal yang kedua orang tuanya lakukan demi bisa menyambung hidup keluarga. Berhasil mengantarkan pesanan tepat waktu pada pelanggan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Mufki.
Pelan-pelan, Mufki menemukan semangat hidupnya kembali. Ia tahu bahwa kedua orang tuanya yang mencintainya tanpa syarat berhak untuk melihatnya berkembang lebih dari versi dirinya yang saat itu. Oleh karenanya, Mufki memutuskan menjalani ujian Paket C dan mengambil kelas karyawan di Universitas Widyatama, jurusan Teknik Informatika, setelah lulus.
“Siang Ngojek, Malam Ngoding.”

Mufki mengaku bahwa keputusannya untuk berkuliah Teknik Informatika diambil secara acak dan tanpa pertimbangan panjang. Keseriusannya untuk belajar pemrograman dari nol dimulai saat kuliah. Ketika itu, Mufki bercerita bahwa ia sering “merepotkan” dua orang temannya.
“Saya sempat sibuk kuliah sambil narik. Siangnya ngojek dulu, malamnya belajar ngoding minimal satu jam sehari,” ungkapnya.
Akhirnya, beranjak ke semester lanjut, Mufki berkenalan dengan Dicoding melalui sebuah acara di kampus. Kebetulan, Dicoding kemudian membuka kesempatan belajar intensif bagi mahasiswa seperti dirinya. Merasa bahwa belajar di Dicoding dapat memperkuat fundamental skills-nya, Mufki memutuskan untuk ikut serta dan mengambil learning path React dan back-end development.
“Pendekatan materi di Dicoding lebih praktikal, industry-oriented, dan bisa ngelengkapin teori yang saya pelajari di kampus,” ujar Mufki.
Memahami Semangat “Belajar Seumur Hidup” dari Dicoding

Mufki merasa pengalaman belajarnya di Dicoding sangat seru dan berkesan. Ia merasa program intensif di Dicoding tidak hanya berfokus pada penguasaan hard skills, tetapi juga membantunya mengasah soft skills, terutama dalam hal time management, komunikasi, dan kerja tim.
“Selama belajar intensif di Dicoding, saya bertemu dengan banyak orang baru tempat berbagi pengalaman, saling belajar, dan berkolaborasi dalam mengerjakan proyek. Kolaborasi tersebut membuat saya dan tim meraih gelar capstone project terbaik saat itu,” kenang Mufki.
Setelah belajar di Dicoding, Mufki merasa semakin memahami konsep front-end dan back-end development, serta cara mengimplementasikannya ke dalam proyek nyata. Ia pun memperoleh best practice dalam menulis kode, dapat berkolaborasi menggunakan Git, dan bisa membangun aplikasi secara end-to-end. Semua itu membuat Mufki lebih percaya diri saat terjun ke dunia kerja sebagai software engineer.
Namun, Mufki merasa bagian yang paling berkesan justru pembentukan karakter dan pola pikirnya. Dicoding mengajarkan Mufki pentingnya konsistensi, disiplin, dan semangat belajar seumur hidup. Ia jadi memahami bahwa kemampuan teknis bisa dikejar, tetapi kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi adalah hal yang benar-benar membedakan seorang developer biasa dengan yang luar biasa.
“Jangan Takut Mulai dari Nol”

Selepas lulus dari program intensif di Dicoding, Mufki melamar ke Lumio Inovasi Technology, sebuah perusahaan penyedia smart digital signage yang produknya sudah banyak digunakan oleh berbagai industri besar di Indonesia. Pengalaman pernah mengerjakan capstone project membantu Mufki melewati berbagai tahap rekrutmen hingga akhirnya diterima sebagai seorang software engineer.
“Bisa dibilang, pengalaman belajar di Dicoding membentuk kepercayaan diri dan kesiapan mental saya untuk menghadapi dunia profesional. Tanpa pengalaman itu, mungkin saya tidak akan bisa menjawab wawancara sebaik dan setenang waktu itu,” ujar Mufki.
Sebagai seorang software engineer, Mufki bertugas untuk mengembangkan, memelihara, dan meningkatkan fitur aplikasi berbasis web, khususnya di sisi front-end, agar produk yang dibuat memiliki performa optimal dan pengalaman pengguna yang baik. Ia merasa kelas Belajar Fundamental Aplikasi Web dengan React sangat membantunya dalam hal ini.
Berhasil “merangkak” dan memulai perjalanannya sebagai talenta digital dari nol, Mufki ingin siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya dapat sukses. Oleh karenanya, Mufki berpesan kepada sesamanya untuk tidak pernah takut memulai apa pun dari nol.
“Tidak masalah jika kamu merasa tertinggal, tidak punya latar belakang kuat, atau bahkan datang dari jalan yang tidak lurus-lurus saja. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar dan konsistensi untuk terus berkembang,” tutup Mufki.
